Tuesday, June 10, 2008

Bersanding dengan Bidadari

Diceritakan dari Abdul Wahid bin Zaid yang berkata: Dahulu aku pernah naik sebuah perahu. Tiba-tiba bertiuplah angin ribut, sehingga kami semua terdampar disebuah pulau. Disana aku sempat menjumpai seorang lelaki penyembah berhala. Kami kemudian bertanya kepadanya, “Wahai Fulan! Siapakah yang sedang kamu sembah itu?” Lelaki itu kemudian menunjuk kesebuah berhala, dan kami kembali bertanya, “Diperahu, kami mempunyai seorang teman yang biasa membuat benda seperti ini (berhala). Akan tetapi, benda ini bukanlah merupakan sembahan sepertimana Tuhan!” “Lalu, siapa yang kalian sembah?” tanya lelaki penyembah berhala itu. “Allah,” jawab kami. “Siapa Allah itu?” tanyanya. “Zat dimana Arasy-Nya ada dilangit, kekuasaan-Nya ada dibumi dan keputusan-Nya berlaku bagi yang masih hidup serta yang telah mati,” jawab kami semua.

“Bagaimana kalian dapat mengenali-Nya?” tanya lelaki itu lagi.
“Tuhan kami telah mengutus seorang utusan yang mulia dan beliaulah yang menerangkan semua itu,” jawab kami. “Lalu, apa yang dilakukan oleh utusan itu?” tanyanya. “Beliau telah menyampaikan risalahnya dan kemudian beliau pun wafat,” jawab kami serentak. “Apakah beliau tidak meninggalkan sebuah bukti kepada kalian?” tanya lelaki penyembah berhala itu. “Ya, beliau meninggalkan kitab Allah,” jawab kami lagi. “Tolong perlihatkan kepadaku kitab Allah itu, aku yakin kitab-kitab Allah itu indah sekali,” kata lelaki tadi.

Kami pun mengambilkan sebuah mushaf. Setelah melihatnya, dia berkata, “Aku tidak pernah tahu kitab ini!” Kami lalu membacakan sebuah surah Al-Qur’an dan ketika kami membacanya, dia pun menangis hingga kami selesai membaca satu surah. Selepas kami membacanya, dia pun berkata, “Sudah selayaknya Pemilik kalam ini tidak diderhakai.” Akhirnya lelaki penyembah berhala itu pun masuk Islam, dan ikut bersama kami. Kami ajarkan hukum-hukum Islam serta sebahagian surah-surah Al-Qur’an kepadanya.

Saat malam tiba, selepas melakukan solat Isyak, kami merebahkan diri dipembaringan, lelaki itu kemudian berkata, “Wahai saudaraku! Apakah Tuhan yang telah kalian tunjukkan kepadaku ini ketika malam tiba juga tidur?”
“Tidak, wahai hamba Allah! Dia adalah Maha Besar, Maha Berdiri sendiri dan tidak akan pernah tidur,” jawab kami semua. “Kalau begitu. orang paling buruk adalah kalian semua. Kalian semua tidur, sedang Tuhan kalian tidak pernah tidur,”
kata lelaki tadi.

Kami semua kagum oleh kata-katanya itu, maka ketika kami sampai didaerah Ubbadan, hal ini kuberitahu kepada teman-temanku, “Dia baru saja masuk agama Islam.” Kami mengumpulkan beberapa keping wang dirham, selanjutnya kami berikan kepadanya. Saat kami serahkan, dia berkata, “Apa ini?” “Kami berikan ini kepadamu,” jawab kami. “Laa ilaaha illallaah, kalian telah menunjukkan aku kesebuah jalan yang selamanya belum pernah kalian lalui. Dahulu aku berada disebuah jazirah dengan menyembah berhala, tetapi berhala itu tidak pernah membuat aku hidup miskin. Maka sekarang tidak mungkin Tuhan yang aku sembah ini akan membuat aku susah, sedang aku sendiri mengingati-Nya siang dan malam,” kata lelaki itu.

Selang beberapa hari, aku mendapat khabar bahawa lelaki itu menderita sakit parah. Aku datang menjenguk dan bertanya kepadanya, “Adakah yang dapat kubantu untukmu?” “Yang dapat membantuku adalah orang yang bersama kalian ke jazirah tempat tinggalku,” demikian jawabnya.

Pada saat itu mataku terasa mengantuk sekali hingga akhirnya aku pun tertidur disisinya. Didalam tidur aku bermimpi bahawa dimakam Ubbadan ada sebuah taman dan ditaman itu ada sebuah kubah. Di dalam kubah tersebut ada sebuah pembaringan. Diatasnya duduk seorang bidadari jelita yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Gadis itu kemudian berkata, “Demi Allah, aku memohon kepadamu agar dia datang secepatnya. Sungguh, aku telah rindu kepadanya!”
Aku pun terbangun dan ternyata setelah kuamati lelaki itu sudah meninggal dunia. Aku ikut merawat jenazahnya, mulai dari memandikan, mengafan, menyembahyangkan dan seterusnya menguburkannya.

Tengah malam aku bermimpi bertemu dengan lelaki itu, dia berada dalam kubah bersanding dengan bidadari yang kujumpai dalam mimpiku sebelumnya. Aku dengar lelaki itu sedang membaca ayat yang bermaksud: ….sedang malaikat-malaikat masuk ketempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Salamun ‘alaikum bima shabartum (salam sejahtera buat kalian semua atas kesabaran kalian semua).” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24)

di ambil dari blog http://zahraannur.wordpress.com

Sunday, December 16, 2007

Kisah mulia Rabi`atul-adawiyyah

Disadur dari beberapa kisah mulia Kekasih Allah, Rabi`atul-adawiyyah
Malik bin Dinar pergi mengunjungi Rabi'atul-adawiyyah satu hari. Dilihatnya dalam rumah Rabi'atul-adawiyyah satu balang yang pecah dan mengandungi air untuk minum dan mengambil wuduk, satu bata sebagai bantal dan tikar yang buruk sebagai alas tempat tidur.

Malik berkata, "Jika kamu izinkan, boleh aku suruh seorang kawanku yang kaya memberimu semua keperluan harian."

Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Adakah satu Tuhan yang menanggung aku, dan Tuhan lain pula menanggung kawanmu itu? Jika tidak, adakah Tuhan lupa kepadaku kerana aku miskin dan ingat kepada kawanmu itu kerana ia kaya? Sebenarnya Allah itu tidak lupa kepada siapa pun. Kita tidak perlu memberi ingat kepada Tuhan itu. Dia lebih mengetahui apa yang baik
untuk kita. Dia yang memberi kurnia dan Dia juga yang menahan kurnia itu.
"
Semoga bisa diambil hikmahnya

Saturday, December 08, 2007

Bunga dan Kupu-kupu.....

Seorang lelaki berdoa kepada Allah agar diberikan Bunga dan Kupu2 ...
Tetapi Allah memberikannya kaktus dan ulat...
Lelaki ini sedih..tidak mengerti mengapa pemberian-Nya berbeda dengan permintaannya...
Kemudian ia Berfikir : mungkin Allah mempunyai terlalu banyak umat yg harus diurus
Dan dia memutuskan untuk tidak mempersoalkannya
beberapa waktu kemudian..lelaki ini memikirkan kembali permohonan doa yang sudah lama dilupakannya...
Lelaki itu amat terperanjat ketika melihat dari pohon kaktus yg berduri itu tumbuh bunga yg cantik..
Dan ulat telah berganti menjadi kupu2...

..........................................................................................................................................................................

Allah selalu melakukan semua perkara dengan benar! Cara Allah senantiasa terbaik, walaupun kelihatan semuanya salah.. Jika kita memohon sesuatu dan menerima yg lain dari Allah, percayalah... Pastinya Allah senantiasa mengaruniakan apa yg diminta pada saat yang tepat... Apa yg kita minta.. tidak selalu apa yg kita perlukan... Allah tidak akan gagal memenuhi permintaan, maka teruskan berdoa tanpa ragu dan mengeluh... Duri hari ini...adalah bunga hari esok...


di copy paste dari tempat seorang teman dengan seijinnya